Ibas Disebut dalam Berbagai Kasus. Citra Cikeas Lampus?

RIMANEWS- Dengan asas praduga tak bersalah, media mengungkapkan nama anak bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Edhie Baskoro alias Ibas, dalam sejumlah kasus. Dan kasus-kasus itu dibuka di KPK dan menimbulkan gunjingan publik, apakah KPK berani memeriksa Ibas? Katakan benar kalau benar, katakan salah kalau Ibas salah. Beranikah KPK? Jika tidak berani, wajar jika publik curiga berat bahwa KPK sudah tidak amanah, tak jujur dan tak kredibel. Pada November 2009, Ibas pernah disebut menerima dana talangan untuk Bank Century sebesar Rp500 miliar. Tuduhan itu tersebar setelah aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) menggelar konferensi pers. Menurut Bendera, beberapa anggota tim sukses SBY dan Boediono kecipratan duti Century. Di antaranya, selain Ibas, Partai Demokrat sebagai partai pendukung mendapat Rp 700 miliar. Ibas bersama tokoh lainnya yang disebut melaporkan dua aktivis Bendera, Mustar Bonaventura dan Ferdi Semaun, ke Polda Metro Jaya, Desember 2009. Ibas sempat menjadi saksi dalam persidangan kasus itu. Sekjen Partai Demokrat ini menegaskan tidak pernah menerima sebagian dana Bank Century. “Tidak benar sama sekali yang dituduhkan, bahwa saya menerima aliran dana Bank Century. Saya merasa difitnah dan dicemarkan nama baik saya,” ujarnya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (10/2/2011). Mustar dan Ferdi dijatuhi hukuman tujuh bulan penjara atas dakwaan pencemaran nama baik. Keduanya tidak mampu dan gagal untuk menunjukkan bukti tentang adanya aliran dana Century. Pada Maret 2013, Ibas dituding menerima duit proyek pembangunan Pusat Pendidikan dan Pelatihan serta Sekolah Olahraga Nasional di Bukit Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tudingan itu diungkapkan bekas Wakil Direktur Keuangan PT Anugerah Nusantara Yulianis. Yulianis juga mantan anak buah terdakwa kasus tersebut M. Nazaruddin. “Benar, uang USD 200 ribu kepada Ibas itu terkait kongres (Partai Demokrat) di Bandung. Saya yakin,” kata Yulianis kepada wartawan usai bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (14/3/2013). Yulianis mengaku tuduhan itu bisa ditelusuri dari catatan keuangan yang disimpan dalam komputer pribadi dan komputer jinjingnya yang sudah disita Komisi Pemberantasan Korupsi. Ibas melaporkan Yulianis ke Polda Metro Jaya terkait pencemaran nama baiknya. Ia membantah tudingan dirinya menerima uang tersebut. Hingga kini kasus itu belum tuntas. Pada akhir 2013, Ibas dikaitkan dalam kasus SKK Migas. Dalam persidangan terdakwa Simon Tanjaya, majelis hakim membacakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Deviardi, pelatih golf Rudi Rubiandini. Dalam BAP yang dibacakan, Devi menyebutkan Direktur Kernel Oil Singapura Widodo Ratanachaithong memiliki jaringan hingga ke Istana, DPR dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam. Dalam BAP yang dibacakan hakim, Deviardi mengaku tidak tahu detail ketujuh perusahaan minyak Widodo. Widodo juga suka main di SKK Migas sejak dijabat Priyono. Deviardi menyampaikan apabila berhubungan dengan Widodo, Rudi akan membuat Ibas dan Istana tenang. Saat dikonfirmasi oleh hakim tentang BAP tersebut, Deviardi tidak menampik BAP tersebut. “Oh, iya itu pas ketemuan di Singapura, Widodo menyampaikan ke saya seperti itu. Setelah itu saya lapor ke Rudi,” kata Deviardi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Selatan, Kamis (28/11/2013). Ibas disebut dalam berbagai kasus di atas, akankah citranya lampus?[rok] Baca Juga KPK Ajari Anak-Anak Bahaya Korupsi Bupati Nganjuk Tersangka Korupsi KPK Tetapkan Anggota DPR Golkar Tersangka “Manisnya Era Soeharto dan Pahitnya Era Jokowi” 3 Keluhan KPK kepada Pemerintahan Jokowi Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Fokus Isu , SBY , KPK , KKN , Cikeas , Ibas Yudhoyono , Fokus Isu , SBY , KPK , KKN , Cikeas , Ibas Yudhoyono , Fokus Isu , SBY , KPK , KKN , Cikeas , Ibas Yudhoyono

Sumber: RimaNews